Cakap 5th Anniversary Talkshow: Inner Development Goals (IDG)

cakap anniversary talkshow 2024

30 Mei lalu, Cakap mengadakan perayaan ulang tahun kelima yang mengusung tema “Catalyst of Change, Bridging the Gap for Social Transformation in Indonesia”. Dalam rangkaian acara tersebut ada dua gelar wicara (talkshow), yang salah satunya membahas relevansi Inner Development Goals (IDGs) dalam mencapai era emas Indonesia. Termasuk bagaimana digitalisasi dan inovasi teknologi dapat mendorong kemajuan ekonomi dan sosial. 

Gelar wicara yang berjudul “Inner Development Goals (IDG): How It Relevance to Indonesia’s Golden Years” ini menghadirkan Chief Operating Officer Cakap, Cecillia Ong sebagai moderator. Ada tiga narasumber yang diundang untuk berdiskusi dalam sesi ini yaitu Shinta Kamdani (Ketua Umum APINDO), Rahayu Saraswati (Politisi dan Aktivis Anak dan Perempuan), Arya Setiadharma (CEO Prasetia Dwidharma, President Commissionaires of Cakap). 

Isu keberlanjutan menjadi salah satu isu penting yang kerap disuarakan dalam beberapa waktu terakhir, termasuk sustainability, impact investment dan sebagainya. Sesi gelar wicara ini mengupas komponen utama dari keberlanjutan, termasuk perkembangan potensi diri dalam konteks pertumbuhan pribadi, kesehatan mental, dan kecerdasan emosional. 

Table of Contents

Sustainability Bukan Hanya Soal Lingkungan

Ketua Umum Asosiasi Pengusaha Indonesia (APINDO), Shinta Kamdani menyoroti pentingnya kita untuk sepakat bahwa sustainability bukan hanya soal lingkungan. Ia juga sangat mengapresiasi Cakap sebagai salah satu perusahaan yang sudah mengaitkan visi dan misi dengan SDG (Sustainable Development Goals) bahkan Inner Development Goals (IDG). 

Ia mengatakan, “Inner Development itu juga dibutuhkan untuk perkembangan sumber daya, jadi kita mulai dari kita masing-masing, kemudian bagaimana itu bisa kita kembangkan. Itu satu definisi yang menurut saya penting untuk kita fokuskan untuk mencapai Indonesia Emas 2045 dan juga untuk mencapai aspek sustainability ini.” 

Faktor Ekonomi Pendukung Kepentingan akan Sustainability

Mengenai faktor ekonomi yang menjadi faktor pendorong dalam meningkatnya isu keberlangsungan, Arya Setiadharma mengatakan bahwa dirinya setuju dengan penyampaian oleh Pak Gita Wirjawan di sesi gelar wicara sebelumnya. Menurutnya, faktor produktivitas benar adalah salah satu matriks penting dalam Total Factor Productivity (TFP). 

Meski demikian, Ia menyatakan bahwa dalam 5 hingga 6 tahun terakhir, di pertumbuhan TFP di Indonesia memang lebih rendah dari negara-negara lain di ASEAN. Hal ini ia anggap mengkhawatirkan mengingat pendapatan perkapita (GDP) yang naik, meskipun sempat turun karena Covid-19. 

“Menurut saya, yang harus kita perhatikan adalah bagaimana kita menggunakan capital (modal) dan bagaimana labor (tenaga kerja) dalam proses produksi, yang secara data, kita tidak lebih efisien. Meskipun kita berkembang seiring perkembangan ekonomi, tetapi tidak efisien, dan buat saya itu mengkhawatirkan,” tutur Arya. 

Lebih lanjut ia menyampaikan kesetujuannya bahwa pendidikan adalah hal yang penting, “Education is an investment, yang mungkin tidak mudah dihitung benefit-nya. Belajar bahasa baru, belum tentu mendapatkan benefit secara ekonomi secara langsung, tapi selama kita belajar suatu saat kita akan mendapatkan manfaatnya. Masalahnya adalah apakah kita sudah mau belajar?” 

Perkembangan Potensi Diri terhadap Isu Sustainability

Dalam pembahasan ini, Rahayu Saraswati menyoroti sebuah fenomena di kalangan Generasi Z (Gen Z) yang memiliki kemewahan untuk berkontribusi di tengah kemajuan teknologi. Meski demikian, menurutnya kemajuan teknologi yang identik dengan generasi ini memiliki pro dan kontra. Pada satu sisi ada kemudahan informasi, di sisi lain juga menjadi faktor yang membuat mereka jadi enggan untuk bekerja keras. 

“Bicara tentang perkembangan diri dan Inner Development Goals, menurut saya merupakan sebuah halusinasi kalau kita berpikir bisa mengembangkan soft skills hanya dengan working smart tanpa working hard. Harus ada keseimbangan dari kemudahan mendapatkan informasi, akses edukasi, dengan kebijaksanaan menangkap realita yang ada di dunia bahwa tidak mungkin bisa untuk berkontribusi secara berkelanjutan tanpa kerja keras,” ungkap Sara. 

Ia juga menegaskan pentingnya kesadaran diri akan potensi dan kekuatan diri sehingga seseorang bisa mengambil peran dan berkontribusi di masyarakat. Menurutnya, dengan memiliki kesadaran diri yang tinggi, kita akan mau untuk mengembangkan diri. Hal tersebut sangat berkaitan dengan sustainability, karena semua orang melakukan bagiannya masing-masing sebaik-baiknya. 

Human Capital & Sustainability

“Kemajuan dari suatu negara tergantung dari manusianya, that’s the key,” ungkap Shinta Kamdani ketika ditanya hubungan antara perkembangan individu dengan perkembangan negara. Menurutnya, pendidikan jelas merupakan hal yang penting, tetapi kualitas individu secara keseluruhan juga tidak kalah pentingnya. 

“Saya selalu mengaitkan hal dengan Indonesia Emas 2045, karena memang target kita. Kembali lagi dengan masyarakatnya, pendidikan memang nomor satu, tetapi kita juga harus memperhatikan kesehatan jasmani dan rohani masyarakat. Ketika 68% pendudukan kita malnutrisi, akan sangat sulit bagi kita untuk menjadi negara maju,” jelas Shinta. 

Ia sendiri sangat mendorong isu terkait pengentasan stunting, early childhood education, dan sebagainya karena hal tersebut juga tidak kalah penting dalam pengadaan human capital. Menurutnya, human capital adalah kunci utama pembangunan sebuah negara dan sangat senang perusahaan seperti Cakap dapat ikut berkontribusi. 

Gender Equality & Sustainability

Kesetaraan gender tidak hanya soal perempuan di tempat kerja, tetapi juga menumbuhkan kesetaraan gender di rumah. Sebagaimana diketahui, banyak pemimpin Indonesia yang datang dari budaya keluarga mereka yang mendorong motivasi internal mereka untuk terus maju. 

Dalam hal ini, Rahayu Saraswati menyebutkan bahwa keluarga adalah salah satu faktor game changer dibalik kesuksesan tokoh-tokoh besar dunia, seperti Einstein, Bill Gates, dan sebagainya. Tidak dari segi support system, namun dari segi budaya. 

Ia menegaskan bahwa seringkali orang tua tidak harus berfokus pada sistem edukasi yang seperti apa, tetapi dengan memberikan contoh secara langsung. “Bagaimana suami mendukung istri untuk bisa berperan, itu yang akan dilihat oleh anak-anak,” ungkapnya. 

Lebih lanjut ia menjelaskan, “Keberlanjutan dari segi good governance, inclusion, diversity, gender equality, itu nggak akan bisa dibangun kulturnya dalam semalam, tetapi harus selalu kita tunjukkan. Jadi cara terbaiknya adalah dengan melakukannya.” 

Ia juga menegaskan, bahwa bagi perusahaan atau tempat kerja, cara terbaik membangun kultur keberlanjutan tersebut adalah dengan menempatkan wanita pada posisi-posisi strategis. Menurutnya, apa yang dilakukan oleh perusahaan, hal ini juga yang nantinya akan ditiru oleh generasi yang lebih muda sehingga hal tersebut benar-benar berkelanjutan. 

Peran Pemerintah dalam Mendukung Isu Sustainability

Rahayu Saraswati menyatakan bahwa political will adalah hal terpenting untuk dilihat dari sisi pemerintahan. “Political will do what is need to be done. Apapun itu, ketika kita membicarakan pemerintahan, itu selalu political will, karena Indonesia itu tidak policy driven, melainkan figure driven. Di mana kebijakan akan selalu berubah sesuai dengan pemerintahan dan lembaga-lembaga lainnya yang tentunya memiliki kepentingan masing-masing,” jelasnya. 

Sementara itu, Shinta Kamdani kembali menyoroti masyarakat secara individu, “Saya mau melihat dari sisi bagaimana kita sebagai individu dapat menjadi bagian dalam pencapaian sebuah negara. Kita tidak bisa selalu berpatokan tujuan individu, bukan hanya soal perkembangan pribadi, tetapi bagaimana kita bisa berperan dalam perkembangan yang lebih besar, misalnya negara.” 

Sebagai penutup, untuk menjadi katalis perubahan, kita membutuhkan kreativitas, self-awareness, dan political will. Semoga dengan perayaan ulang tahun kelima Cakap ini, semua aspek tersebut dapat saling bersinergi dalam mewujudkan Indonesia Emas 2045. 

Baca juga: 

Hilda
Passionate about education and crafting captivating content, I am a dedicated Content Writer with 5 years of experience in the education industry. I excel at crafting compelling narratives that educate, inspire, and entertain across various topics and subject matters. With a background in Japanese studies, I bring a unique perspective to writing about Japanese culture and language.
Cakap
Cakap adalah platform peningkatan keterampilan yang dirancang untuk memberikan pendidikan berkualitas untuk membantumu menguasai keterampilan dan mencapai lebih banyak dalam hidup