How Sustainable Ecosystem Can Grow Indonesia Competency

Tepat di ulang tahunnya yang kelima, Cakap mengadakan talk show dengan tema “How sustainable ecosystem can grow indonesia competency”, bersama narasumber ternama yang kompeten di bidangnya. Talk show yang dimoderatori oleh Aleima Sharuna ini mendatangkan tiga narasumber, yaitu Tommy Yunus (CEO & Co-Founder Cakap), Gita Wirjawan (Menteri Perdagangan Republik Indonesia 2011-2014), dan Dennis Pratistha (Chief Investment Officer Mandiri Kapital Indonesia).

Melalui talk show ini, kamu akan menemukan banyak ilmu pengetahuan baru terutama seputar Edtech, AI, dan peran investor. Simak talk show dan obrolan menarik mereka bertiga dalam rangkuman artikel berikut!

Table of Contents

Point of View Impact Investment di Bidang Education Technology

Dari sudut pandang seorang investor, Dennis Pratistha memberi tanggapan seputar dinamika Edtech, serta pendapat mengenai manakah yang lebih penting antara quality and quantity of number dalam berinvestasi.  

(1) Dinamika Perkembangan Educational Technology

Sebagai seorang investor, Dennis Pratistha tentu mengetahui betul bagaimana dinamika perkembangan educational technology yang tentunya akan berpengaruh bagi investasinya. Beliau menjelaskan bagaimana pendapatnya mengenai pencapaian perusahaan Edtech yang pernah mencapai titik tertingginya pada tahun 2019, namun tidak mencapai 50 persen dari itu di tahun 2022.

Menurut Dennis Pratistha, hal tersebut dipengaruhi oleh beberapa faktor, seperti:

  • Tren Penggunaan EdTech: Selama pandemi, penggunaan platform EdTech meningkat pesat karena orang bekerja dan belajar dari rumah. Namun, saat pandemi mereda, penggunaan tersebut mengalami penurunan karena orang kembali ke rutinitas harian mereka.
  • Dukungan Pemerintah: Inisiatif pemerintah seperti program KIP membantu meningkatkan penggunaan platform EdTech dengan memberikan akses gratis kepada murid-murid dan memberikan insentif.
  • Siklus Penyesuaian Pasca-Pandemi: Ketika pandemi mulai mereda, investor menjadi lebih protektif dan lebih memilih untuk berinvestasi pada perusahaan yang memiliki fundamental yang kuat daripada hanya mencari pertumbuhan yang cepat.

(2) Quality vs Quantity of Number, Mana yang Lebih Penting?

Menjawab dari sisi investment, Dennis Pratistha mengatakan bahwa seorang investor harus melihat bisnis wise karena quantity penting untuk revenue. Namun, jika berbicara tentang impact, maka fokusnya akan tertuju pada quality atau kualitas. Meskipun demikian, quantity juga tetap penting agar bisnis bisa berkembang dan retention juga tetap ada.

“If you only major the qualities that are idealism, and we talk about impact investment it has to be both, idealism and practice”.

Pada akhirnya, spesifikasi quality penting karena jika quality sudah terpenuhi, quantity akan mengikuti.

Eksistensi Edtech & Peluangnya dalam Membantu Capability Seseorang

Sebagai seorang eksekutor yang terjun langsung di bidang Education Technology, Tommy Yunus memaparkan beberapa hal menarik seputar fakta eksistensi dan tantangan perusahaan Education Technology di era ini, serta bagaimana peluang yang diciptakan oleh Edtech company dalam membangun capability seseorang.

(1) Eksistensi dan Tantangan Edtech 

Bagaimana eksistensi Edtech bisa terus berjalan terutama di era pascapandemi? Dengan penjelasan yang runut dan detail, Tommy Yunus mengatakan bahwa “Kalau menurut saya eksistensi dari edtech akan selalu ada dan akan selalu terus dibutuhkan karena teknologi akan menjadi akselerometer untuk bisa membuat pemerataan pendidikan lebih cepat.”

Hal tersebut dipengaruhi oleh faktor-faktor, seperti:

  • Kebutuhan Berkelanjutan: Edtech akan selalu ada dan dibutuhkan karena teknologi mempercepat pemerataan pendidikan, terutama di Indonesia dengan demografinya yang unik.
  • Pentingnya Solusi Relevan: Kunci keberhasilan edtech terletak pada solusi yang relevan.

Selain itu, eksistensi dari perusahaan Edtech juga terbukti karena sudah berhasil melewati 3 fase perkembangan yang sangat penting, yaitu:

  • Fase 2019: Transisi dari offline ke digital yang sulit karena pasar Indonesia belum terbiasa menggunakan teknologi untuk belajar.
  • Tahun 2020 (COVID-19): Periode adaptasi di mana semua pemangku kepentingan harus menggunakan teknologi, mempercepat adopsi teknologi pendidikan 3-5 tahun lebih cepat dari perkiraan.
  • Blended Learning: Kini tersedia opsi belajar online atau offline, memberikan lebih banyak pilihan sesuai kebutuhan.

Sedangkan ketika berbicara mengenai tantangan perusahaan Edtech, era pasca-pandemi menjadi salah satu perputaran kondisi bisnis yang cukup menantang di mana Edtech menghadapi masa yang sulit. Terlebih, di tahun 2022 di mana terjadi koreksi besar pada bisnis ini yang memaksa untuk menciptakan solusi baru yang lebih relevan.

(2) Peluang Edtech Membantu Meningkatkan Capability Seseorang

Selaian menjelaskan tentang bagaimana eksistensi dan tantang Edtech, Tommy Yunus juga memberikan detail jawaban mengenai bagaimana peluang Edtech dalam membantu meningkatkan Capability seseorang.

Menurutnya, “Perusahaan Edtech, seperti yang dikembangkan oleh Cakap, dapat membantu meningkatkan kapasitas individu meskipun mereka memiliki keterbatasan ekonomi, dengan fokus pada aksesibilitas, pengalaman belajar yang menarik, dan hasil yang nyata.”

Meskipun kesempatan untuk melanjutkan pendidikan tinggi bagi masyarakat Indonesia terbatas oleh faktor ekonomi. Namun, edtech memiliki potensi besar untuk membantu meningkatkan kapasitas dan kemampuan individu.

Solusi yang Cakap coba kembangkan sendiri berbasi pada beberapa elemen, yaitu fokus pada teknologi, serta mengajak stakeholder & content creator, curriculum developer, dan learning institusi untuk bisa gabung platform Cakap untuk menghadapi tantang yang sangat unik di landscape Indonesia.

Cakap juga memperhatikan beberapa aspek pendekatan, seperti:

  • Affordable and Accessible
  • Pendekatan untuk kota besar vs kota tier 2&3: Di kota besar, orang sudah fasih dengan teknologi dan menikmati manfaatnya. Di kota-kota tier 2 dan 3, blended learning menjadi lebih efektif.
  • Great Learning Experience
  • Teknologi yang Menarik dan Interaktif: Penting untuk mengembangkan teknologi yang menarik dan engaging untuk pendidikan dini hingga pendidikan dewasa. Pembelajaran harus interaktif, tidak hanya berupa video yang monoton.
  • Return on Investment
  • Peningkatan Taraf Hidup dan Potensi Income: Program harus memberikan peningkatan taraf hidup dan potensi peningkatan pendapatan. Harus ada hasil yang jelas dari investasi di kursus atau pelatihan.

(3) AI & Teknologi sebagai Tools untuk Mempermudah Pendidikan

Ketika berbicara mengenai Education Technology, pasti akan sangat dekat dengan AI. Dalam diskusi di talk show ini Tommy Yunus juga memaparkan sedikit banyak pandangannya mengenai AI dan bagaimana AI berguna bagi pendidikan.

Menurutnya, AI dilihat sebagai tools untuk membantu memberdayakan stakeholder, termasuk guru dalam pendidikan. AI bisa membuat tugas guru dan siswa menjadi lebih mudah dan efisien.

Teknologi akan lebih komprehensif jika digabungkan dengan kurikulum yang sudah direncanakan. Sehingga, konten yang disajikan oleh AI bisa memiliki kerangka yang jelas. Perlu ada keseimbangan antara penggunaan teknologi dan pemberdayaan stakeholder dalam pendidikan. Teknologi harus digunakan untuk mendukung dan memperkuat peran guru serta meningkatkan efisiensi dan efektivitas proses pendidikan.

Solusi Edtech dalam Membangun Ekosistem Pendidikan yang Kolektif dan Efektif

Dalam diskusi di talk show ini, Gita Wirjawan mengemukakan beberapa hal-hal penting seputar Edtech mulai dari pengaruh makro tatanan global sehingga bagaimana productivity menjadi salah satu solusi bagi Edtech dalam membangung ekosistem pendidikan yang kolektif.

Berikut adalah rangkuman dari pernyataan Pak Gita mengenai solusi yang dibutuhkan untuk edtech dan membangun ekosistem pendidikan yang kolektif dan efektif:

(1) Pengaruh Makro Tatanan Global

Ada beberapa pengaruh makro dari tatanan global yang sangat berpengaruh bagi perkembangan Edtech, yaitu:

  • Perubahan Tatanan Dunia: Dunia semakin bergerak menuju multipolaritas dengan banyak negara yang dulunya kecil kini menjadi besar, seperti BRICS, Meksiko, Turki, Indonesia, dan Rusia. Ini menyebabkan revisi terhadap tatanan global yang dulunya hanya didominasi oleh negara besar seperti Amerika Serikat.
  • Persaingan Intens: Dengan meningkatnya multipolaritas, persaingan antar negara dalam bidang edukasi dan teknologi menjadi semakin intens. 

(2) Productivity Menjadi Solusi

Untuk bisa bersaing dalam bidang Education Technology, negara perlu meningkatkan daya saing yang diwujudkan dalam produktivitas.

Ketika persaingan semakin intens, yang paling penting itu adalah daya saing. Daya saing itu sendiri akan termanifestasi dalam produktivitas.”

Gita Wirjawan juga mengemukakan beberapa solusi yang mungkin bisa diterapkan dalam meningkatkan produktivitas, seperti:

  • Investasi Besar di Pendidikan: Diperlukan investasi yang jauh lebih besar dalam pendidikan, terutama dalam bidang STEM (Science, Technology, Engineering, and Mathematics).
  • Kapasitas Komunikasi: Selain STEM, kemampuan komunikasi juga sangat penting untuk negosiasi yang efektif. Tanpa komunikasi yang baik, kemampuan teknis saja tidak cukup.
  • Meningkatkan Produktivitas Marginal: Semua upaya harus diarahkan untuk meningkatkan produktivitas orang menjadi lebih tinggi, agar bisa bersaing di era multipolar dan bilateral.

Fokus pada STEM dan komunikasi dapat meningkatkan produktivitas dan daya saing, Indonesia perlu berinvestasi lebih dalam pendidikan STEM dan pengembangan kapasitas komunikasi.

(3) Tatanan Fundamental dalam Pendidikan Indonesia

Apa tantangan paling fundamental di pendidikan Indonesia untuk membangun individu yang lebih holistic penuh dengan holistically?

Gita Wirjawan menerangkan beberapa pendapatnya mengenai tantangan fundamental dalam pendidikan di Indonesia, yang antara lain adalah:

  • Paradoks Globalisasi: Di dalamnya mencakup kesetaraan dan internet, ketimpangan yang meningkat, serta talenta dan peluang.
  • Fenomena Ekonomi: Termasuk di dalamnya centripetally dalam pertumbuhan ekonomi dan paradoxes (akses informasi yang luas, pertumbuhan dan kekayaan lebih banyak terjadi di kota primer daripada kota sekunder, yang kontradiktif terhadap semangat bahwa dunia ini satu dan rata).
  • Kualitas yang Kontradiktif: Ada 4 hal yang mempengaruhi, yaitu income quality, wealth quality, opportunity quality, centripetally quality (ketimpangan dalam pendapatan, kekayaan, peluang, dan pertumbuhan ekonomi lebih terasa).
  • Divergensi antara Kebijakan dan Opini Publik: Hal ini biasanya dipengaruhi oleh peran sosial media, era post-kebenaran, dan perbedaan antara opini dan fakta semakin besar, menimbulkan polusi percakapan dan memperkeruh era pasca kebenaran.
  • Tantangan Pendidikan: Diharapkan mampu mengintegrasikan AI dengan humanisme, serta memahami tentang bahaya narasi tanpa multidisipliner.

Dari materi-materi yang disampaikan oleh ketiga narasumber talk show edisi ulang tahun Cakap yang ke 5 dapat ditarik kesimpulan bahwa teknologi sangat bermanfaat bagi pendidikan, bahkan dalam penerapannya teknologi dan AI bisa menjadi tools yang mempermudah penyebaran percepatan pendidikan ke seluruh dunia. 

Sebagai penutup, ada sebuah kalimat yang bisa membuatmu menyadari bahwa potensi Indonesia itu, benar adanya. “Exciting moment buat indonesia kita punya potensi bonus demokrasi yang luar biasa, ini harus dimanfaatkan sebagai true potential of indonesia.” –Tommy Yunus.

Baca Juga:

Lely
Saya adalah pencinta sastra dan gemar menyelami tulisan-tulisan lama. Saya percaya bahwa “Menulis, menciptakan ide/gagasan, dan berbagi pengetahuan adalah cara untuk tetap ada dalam pusaran sejarah”.