Ramadan adalah waktu yang tepat untuk berbagi cerita dan motivasi untuk si Kecil. Moms & Dads bisa membacakan mereka cerita untuk mengisi waktu menjelang buka puasa. Kali ini Cakap menghadirkan kumpulan cerita bulan Ramadan untuk anak yang singkat namun penuh makna. Yuk, baca selengkapnya!
Table of Contents
Kesabaran Alula
Alula adalah seorang pelajar SD yang cerdas dan penuh semangat. Ia sangat menantikan bulan Ramadan setiap tahunnya karena bulan tersebut merupakan momen yang istimewa bagi keluarganya. Pada awal Ramadan, Alula dan keluarganya bersemangat untuk menjalankan ibadah puasa. Mereka bangun setiap pagi untuk sahur bersama-sama, dan Alula pun menjalankan puasa tanpa hambatan.
Namun, suatu hari, ketika Ramadan memasuki pertengahan bulan, Alula mendapatkan cobaan. Dia merasa sangat lapar dan haus di tengah hari yang panas setelah berjalan sepulang sekolah. Dia ingin sekali makan dan minum, tetapi dia tahu bahwa itu akan membatalkan ibadah puasanya. Alula pun duduk di bawah pohon di halaman belakang rumahnya, mencoba menenangkan diri. Dia mengingat pesan ibunya tentang pentingnya kesabaran dalam menjalani ibadah puasa. Dia memahami bahwa kesabaran adalah kunci untuk melewati cobaan ini dengan baik.
Dengan tekad yang kuat, Alula mulai berdzikir dan membaca Al-Quran. Dia juga mengalihkan perhatiannya dengan bermain dengan adiknya di dalam rumah. Meskipun rasa lapar dan haus masih terasa, Alula berusaha untuk tetap sabar dan menjalani sisa hari dengan penuh keikhlasan. Saat matahari mulai terbenam dan waktu berbuka tiba, Alula merasa lega. Dia bersyukur kepada Allah karena telah memberinya kekuatan untuk melewati cobaan tersebut. Dia juga merasa bangga pada dirinya sendiri karena telah berhasil mempraktikkan kesabaran dalam menjalankan ibadah puasanya.
Malam itu, ketika Alula bersama keluarganya duduk di meja makan untuk berbuka puasa, dia merasa bahagia. Mereka berbagi cerita tentang pengalaman puasa mereka hari ini, dan Alula dengan bangga menceritakan bagaimana dia mengatasi rasa lapar dan haus dengan kesabaran.
Dari pengalaman itu, Alula belajar bahwa kesabaran adalah sifat yang sangat penting dalam menjalani kehidupan sehari-hari, terutama dalam menjalankan ibadah puasa di bulan Ramadan. Dia berjanji untuk terus melatih dirinya menjadi lebih sabar setiap hari, karena dia tahu bahwa kesabaran akan membawa banyak keberkahan dalam hidupnya.f
Tarawih di Malam Ramadan
Arka dan keluarganya selalu melaksanakan ibadah salat Tarawih di masjid yang tidak jauh dari rumahnya. Ramadan tahun ini, Ayah mengajak Arka dan Kak Wahyu untuk mencoba salat tarawih di masjid yang berbeda.
Malam itu, Arka bersama Ayah dan Kak Wahyu pun berangkat ke Masjid Al-Mukminin dengan berjalan kaki. Sesaat setelah mereka sampai, azan Isya pun berkumandang dan mereka pun mulai melaksanakan salat berjamaah.
Ketika memasuki salat tarawih, Arka merasa bahwa jumlah rakaat salatnya lebih banyak daripada salat tarawih yang biasa ia laksanakan sebelumnya. Ia juga kaget karena imam membaca bacaan salat dengan lebih cepat dibandingkan dengan masjid di dekat rumahnya.
“Ayah, kenapa salat tarawih di masjid tadi beda dengan di masjid dekat rumah kita?” tanya Arka kepada Ayahnya saat di jalan pulang.
“Tadi itu kita salat tarawih dan witir sebanyak 23 rakaat, sementara di masjid dekat rumah hanya 11 rakaat. Nah, supaya tidak terlalu lama, bacaan salatnya pun dipercepat,” ujar ayah menjelaskan.
“Ada bedanya yang salat 11 rakaat dan 23 rakaat, yah?” tanya Arka lagi.
“Sama-sama menjalankan ibadah salat tarawih, hanya berbeda pandangan dalam melaksanakannya. Tidak hanya tarawih, ada banyak ibadah lain yang penyelenggaraannya berbeda karena agama islam sendiri juga sangat beragam. Selama tidak menyimpang dari Al-Qur’an dan sunah, semua dapat diterima.”
Malam itu Arka baru mengetahui bahwa pelaksanaan salat tarawih ternyata tidak semuanya sama. Ia jadi ingin cepat-cepat ke sekolah besok dan bertanya pada teman-temannya berapa rakaat salat tarawih di masjid tempat mereka beribadah.
Puasa Pertama Alesha
Alesha adalah seorang siswi kelas 1 SD yang tahun ini akan menjalankan ibadah puasa Ramadan untuk pertama kalinya. Meskipun sejak TK Alesha sudah belajar mengenai ibadah puasa, tetapi ia belum pernah mencoba secara langsung untuk melaksanakannya.
Pada hari pertama Ramadan, Alesha dibangunkan oleh ibu untuk makan sahur pada pukul 3 dini hari. Meskipun masih mengantuk, Alesha tetap bangun untuk menyantap hidangan yang disediakan oleh ibunya.
“Wah, ada ayam goreng,” ungkap Alesha begitu ia sampai di meja makan. Tidak hanya ayam goreng yang merupakan makanan favoritnya, Ibu juga menyiapkan tahu dan tempe kecap serta sayur bayam.
“Agar puasanya kuat, kita harus mengonsumsi makanan bergizi saat sahur. Kita juga sebaiknya makan makanan berserat seperti sayuran agar pencernaan tidak terganggu.” Ibu menjelaskan sambil mengambilkan sepiring nasi untuk Alesha.
Hari pertama Ramadan tahun ini jatuh di hari Minggu sehingga Alesha tidak memiliki kegiatan di sekolah. Ia mengisi kegiatannya dengan membaca buku dan menonton tayangan anak di TV.
Saat siang hari, Alesha mulai merasakan lapar, tetapi ia tahu bahwa ia harus melawan rasa lapar dan lemas tersebut. Ibu pun menyemangatinya dengan mengatakan bahwa akan membuat kolak pisang yang disukai Alesha untuk berbuka puasa.
Setelah salat zuhur, Alesha tertidur ketika sedang menonton TV. Ia dibangunkan ibu untuk salat asar pada sore hari dan mencium aroma sedap dari arah dapur. Setelah salat Ashar, ia membantu ibu untuk menyiapkan makanan untuk berbuka puasa.
Akhirnya waktu berbuka yang ditunggu-tunggu pun tiba. Alesha bersama Ibu dan Ayahnya berdoa dan menyantap makanan lezat yang dimasak oleh ibu. Tidak lupa Alesha juga sangat menikmati kolak pisang yang khusus dibuat ibu untuk menyemangatinya.
“Wah, selamat Alesha sudah berhasil menyelesaikan puasa pertamanya. Hebat sekali, Ayah bangga,” ungkap Ayah ketika mereka sedang berbuka.
Ibu pun kemudian menimpali, “Selain berhasil puasa, Alesha tadi juga sudah membantu Ibu memotong pisang untuk kolak, lho. Terima kasih ya, Nak.”
Alesha sangat bangga karena sudah berhasil menjalankan ibadah puasa pertamanya pada bulan Ramadan tahun ini. Ia juga sangat senang karena mendapatkan pujian oleh Ayah dan Ibu.
Istiqomah untuk Khatam Al-Qur’an
“Mama, Syakila berencana untuk khatam Al-Qur’an Ramadan tahun ini,” ujar Syakila pada ibunya pada malam pertama Ramadan.
“Wah, bagus sekali! Jika ingin khatam selama bulan Ramadan, maka Syakila harus membaca satu juz setiap harinya. Artinya Syakila harus membaca Al-Qur’an lebih dari 1 kali sehari. Apakah Syakila siap untuk mencoba?”
“Syakila sudah bertekad, Ma. Syakila akan membaca Al-Qur’an setiap selesai salat 5 waktu!” serunya yakin.
Mulai malam itu, Syakila selalu menyempatkan diri untuk membaca Al-Qur’an setiap selesai salat. Tidak hanya itu, ia pun sering menolak ajakan bermain teman-temannya jika target bacaan Al-Qur’an hariannya masih belum tercapai.
“Syakila kok sekarang jarang main, sih?” tanya Siska, teman sekolah Syakila suatu hari.
“Aku sedang fokus untuk khatam Al-Qur’an selama bulan Ramadan tahun ini,” jawab Syakila. Meskipun terkadang ia tergoda untuk ikut bermain, tetapi Syakila bertekad dalam hati bahwa ia harus menyelesaikan bacaan Al-Qur’annya.
Menjelang buka puasa di hari terakhir Ramadan, Syakila pun akhirnya menyelesaikan juz 30 yang artinya Syakila sudah berhasil khatam Al-Qur’an.
“Hebat sekali anak Papa!” seru Papa ketika Syakila menyambutnya saat pulang bekerja. Mama juga sangat bersyukur dan merasa bangga akan pencapaian Syakila.
Setelah lebaran, Syakila mendapatkan kejutan berupa sepeda baru dari Papa dan Mama sebagai hadiah telah berhasil menyelesaikan bacaan Al-Qur’an-nya.
Hadiah Berpuasa
Zafran adalah seorang siswa kelas 3 SD yang masih belajar berpuasa. Keluarganya memiliki cara unik untuk menyemangati Zafran dalam berpuasa penuh di bulan Ramadan. Setiap hari di mana Zafran berhasil berpuasa sampai magrib, Ayah akan memberikan sejumlah uang untuk ditambahkan ke tabungan Zafran.
“Nah, puasa tahun ini apa Zafran sanggup untuk berpuasa sebulan penuh?” tanya Ibu pada Zafran.
“Zafran akan berusaha, Bu. Tahun lalu Zafran belum berhasil, tapi tahun ini Zafran pasti bisa,” jawab Zafran dengan semangat.
“Seperti tahun lalu, Ayah akan memberikan uang saku tambahan untuk ditabung jika Zafran berhasil puasa sampai magrib setiap hari. Tidak hanya itu, jika Haikah berhasil puasa selama sebulan penuh, maka Ayah akan membelikan Zafran sepatu yang Zafran inginkan.” Ayah menambahkan.
“Yeay! Terima kasih, Ayah!” seru Zafran senang. Ia memang sedang fokus menabung untuk membeli sepatu olahraga yang sangat ia inginkan.
Ramadan pun datang, Zafran sangat antusias menyambut bulan puasa tahun ini. Setiap harinya ia berusaha untuk terus berpuasa dengan semangat dan sungguh-sungguh. Setiap berhasil menyelesaikan puasa seharian, Zafran akan mendapatkan amplop kecil berisi sejumlah uang tunai yang bisa ia tabung.
Menjelang akhir Ramadan, tabungan Zafran sudah bertambah cukup banyak karena puasanya belum ada yang bolong dan batal. Ia juga mulai optimis bahwa ia akan berhasil berpuasa penuh sampai akhir Ramadan.
Pada hari terakhir Ramadan, Zafran tersenyum senang karena ia kembali berhasil berpuasa seharian penuh.
“Untuk pertama kalinya Zafran berhasil puasa sebulan penuh. Alhamdulillah. Selamat, ya, Nak!” kata Ibu sambil tersenyum bangga.
“Alhamdulillah. Insyaallah Ayah akan langsung belikan sepatu Zafran setelah lebaran. Tabungan Zafran disimpan saja dan tetap rajin menabung, ya!” ungkap Ayah sama bangganya.
“Alhamdulillah, terima kasih, Ayah dan Ibu!”. Dengan motivasi dari kedua orang tuanya tersebut, Zafran bertekad akan berpuasa sebulan penuh lagi tahun depan.
Demikianlah cerita bulan Ramadan untuk anak yang singkat namun inspiratif untuk memotivasi si Kecil berpuasa. Selain membacakan cerita untuk si Kecil, Moms & Dads juga bisa mengajak si Kecil untuk melakukan kegiatan bermanfaat lainnya selama Ramadan.
Misalnya dengan belajar bahasa Inggris di Cakap Kids Academy. Berbeda dengan kelas bahasa Inggris anak pada umumnya, Cakap Kids Academy mengusung metode EXPERT (Explore–Practice–Certify) yang interaktif dan menyenangkan. Yuk, daftarkan si Kecil di Cakap Kids Academy sekarang!




