Perjalanan Origami dari Masa ke Masa

Origami

Negara matahari terbit memang punya banyak hal yang bisa kita pelajari. Mulai dari belajar angka dalam bahasa Jepang agar makin fasih, fashion, hingga melipat kertas atau yang biasa kita kenal dengan Origami

Apa yang pertama kali kamu ingat ketika mendengar kata “Origami”? Di Indonesia, Origami identik dengan kertas berwarna yang dilipat-lipat. Ketika kecil, kita mungkin sering membuat hewan dari kertas warna. Tapi, apakah kamu tahu, asal usul dari kegiatan tersebut?

Origami bukan hanya kegiatan melipat kertas yang kita lakukan semasa kecil. Secara harfiah, Ori memiliki arti melipat, dan Kami berarti kertas. Origami adalah seni melipat kertas dari Jepang. Seni yang satu ini punya sejarah yang cukup panjang. Yuk, kita flashback bareng!

source: giphy.com

Zaman Heian (741-1191)

Kaum biksu Shinto percaya Origami sebagai penutup botol sake saat upacara penyembahan. Saat itu, Origami dikenal dengan nama orikata/origata, orisui, atau orimino. Di zaman ini, Origami biasa dilakukan oleh kelas atas untuk menghabiskan waktu kosong.

Zaman Kamakura (1185-1333)

Bentuk Origami yang dikenal dalam zaman ini adalah noshi, yaitu kertas yang dilipat yang berisi daging tiram tipis. Noshi juga merupakan hidangan istimewa bagi orang Jepang yang dipercaya dapat membawa keberuntungan. Hitogata, boneka dari kertas lipat, juga mulai dibentuk di zaman ini.

Zaman Muromachi (1338-1573)

Di zaman Muromachi, perdagangan antara Tiongkok dan Jepang sedang meningkat dan banyak kerajinan-kerajinan dari Jepang yang dipengaruhi oleh ini. Dalam zaman ini, Origami berbentuk noshi bukuro juga mulai digunakan sebagai amplop uang di perayaan tahun baru. Noshi bukuro adalah kertas yang dilipat hingga membentuk amplop.

Zaman Edo (1600-1868)

Origami berkembang pesat di zaman Edo karena kertas berlimpah. Selain kertas lipat, kertas berwarna mulai berkembang di zaman ini. Pada akhir zaman Edo, terdapat 70 bentuk Origami yang dihasilkan, seperti bangau, kapal, dan balon. Origami berkembang menjadi aktivitas yang dilakukan oleh orang dewasa dan anak-anak. 

Zaman Meiji (1868-1912)

Mulainya Origami diajarkan di taman kanak-kanak dan sekolah dasar di Jepang terjadi di Zaman Meiji. Origami diajarkan dalam mata pelajaran menggambar dan seni. Sejak zaman Meiji, bentuk-bentuk Origami tradisional berkembang.

Zaman Showa (1926-1989)

Pada awal zaman Showa, Origami tidak lagi ditekankan harus dipelajari di sekolah karena dirasa tidak berhasil menumbuhkan kekreatifan. Namun, Origami kembali naik daun ketika dirasa dapat digunakan dalam pembelajaran geometri dan dinilai terapeutik untuk pasien dengan mental disorder.

Perkembangan Origami Modern

source: giphy.com

Origami modern dipelopori oleh Yoshizawa Akira pada tahun 1950-an. Ia membuat Origami berbentuk binatang dan benda dekoratif yang berbeda dengan Origami model tradisional. Pada tahun 1989, ia diperkirakan sudah membentuk 50.0000 model Origami.

Akira menciptakan teknik lipatan basah dan diagram “Yoshizawa Randlett”, yaitu cara membuat Origami dengan simbol-simbol seperti garis atau panah untuk mempermudah pembentukan Origami. Teknik lipatan basah diciptakan Akira memudahkan pelipatan Origami dan hasilnya lebih tegas.

Di Indonesia, Origami dipelajari di jenjang pendidikan taman kanak-kanak. Salah satu alasannya adalah karena Origami bermanfaat untuk mengembangkan kemampuan motorik, otak, imajinasi, dan konsentrasi. Meski demikian, Origami juga bisa dilakukan oleh orang dewasa untuk sebagai hobi atau untuk mengisi waktu luang.

source: giphy.com

Origami juga bisa dipadukan dengan Ikebana sehingga menjadi rangkaian bunga yang terbuat dari kertas. Buat kamu yang suka dengan tema-tema floral, berkreasi dengan Oribana bisa menjadi salah satu kegiatan yang seru lho!

Budaya Jepang memang sudah menjadi bagian hidup kita dari kecil, dari makanan seperti ramen dan sushi, anime, dan musik. Seni asal Jepang yang satu ini memang nggak lekang oleh waktu. Konon, kalau kamu dapat membuat 1.000 bangau kertas, maka permohonanmu akan dikabulkan. Wah, berani coba?

Baca Juga:

Bagikan Tautan Ini
Share on facebook
Share on whatsapp
Share on linkedin
Share on twitter
Share on google