Ramadhan Bulan Pertaubatan oleh Gus Yusron

Ramadhan Bulan Pertaubatan Oleh Gus Yusron

Awadah Dakwah Festival kali ini menghadirkan Gus Yusron yang akan membahas mengenai, “Ramadhan Bulan Pertaubatan”. Gus Yusron menjelaskan bahwa sesungguhnya Islam adalah agama yang sangat komplit yang memperhatikan sedetik dan sekecil apapun perkara itu, setiap perkara ada adabnya, baik bagaimana mengasihi antar sesama saudara sesama muslim hingga ruang lingkup yang lebih besar yaitu mengasihi antar sesama makhluk di bumi. 

Ada sebuah tradisi di kalangan ulama Islam terdahulu, ketika mereka mengajarkan pelajaran hadist atau lainnya selalu memulai pelajar dengan hadist berikut :

الراحمون يرحمهم الرحمن، ارحموا من في الأرض يرحمكم من في السماء

Artinya : “Orang yang memberi kasih sayang maka dia akan mendapatkan kasih sayang Allah, sayangilah orang yang di bumi, niscaya kamu akan dikasih sayangi orang yang di langit.”  (HR .Bukhari)

Hadist tersebut dikanal di kalangan ahli hadist dengan istilah hadits musalsal bil awwaliyah. Musalsal artinya rantai, hadist musaksak artinya hadist yang diriwayatkan oleh para pembawa riwayat dengan kondisi yang sama mulai dari Nabi s.a.w. sampai rawi terakhir. Bil awwaiyah artinya sebagai pelajaran pertama. Para ulama hadist sampai sekarang mentradisikan bahwa hadist tersebut selalu diajarkan dalam kondisi sebagai pelajaran pertama yang diajarkan kepada murid-muridnya. Ini sebuah mu’jizat kenabian yang luar biasa, yaitu para sahabat, ulama dan pakar ilmu hadist mulai zaman Nabi sampai sekarang selalu mengajarkan ajaran kasih sayang ini sebelum pelajaran-pelajaran lainnya, bahkan sebelum pelajaran akidah, syariah, akhlaq dan ajaran lainnya. Maka ini menunjukkan betapa ajaran kasih sayang itu di atas semua ajaran lainnya.

Sejatinya setiap manusia adalah ladang berbuat kesalahan. Maka Rasulullah menjelaskan dalam sebuah hadist :

كُلُّ بَنِي آدَمَ خَطَّاءٌ وَخَيْرُ الْخَطَّائِيْنَ التَّوَّابُوْنَ.

Artinya : “Setiap anak Adam pasti berbuat salah dan sebaik-baik orang yang berbuat kesalahan adalah yang bertaubat”. (HR Tirmidzi 2499, Shahih at-Targhib 3139).

Sesungguhnya kembali kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala atau bertaubat bukanlah sesuatu yang mudah dilakukan oleh manusia. Jika dibedah dari segi bahasa, at-taubah berasal dari kata تَوَبَ yang bermakna kembali. Dia bertaubat,  artinya ia kembali dari dosanya (berpaling dan menarik diri dari dosa). Taubat adalah kembali kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala dengan melepaskan hati dari belenggu yang membuatnya terus-menerus melakukan dosa lalu melaksanakan semua hak Allah Subhanahu Wa Ta’ala.

Hakikat taubat yaitu perasaan hati yang menyesali perbuatan maksiat yang sudah terjadi, lalu mengarahkan hati kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala pada sisa usianya serta menahan diri dari dosa. Melakukan amal soleh dan meninggalkan larangan adalah wujud nyata dari taubat. 

Taubat mencakup penyerahan diri seorang hamba kepada Rabbnya, inabah (kembali) kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala dan konsisten menjalankan ketaatan kepada Allah. Jadi, sekedar meninggalkan perbuatan dosa, namun tidak melaksanakan amalan yang dicintai Allah Subhanahu Wa Ta’ala, maka itu belum dianggap bertaubat.

Seseorang dianggap bertaubat jika ia kembali kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala dan melepaskan diri dari belenggu yang membuatnya terus-menerus melakukan dosa. Ia tanamkan makna taubat dalam hatinya sebelum diucapkan lisannya, senantiasa mengingat apa yang disebutkan Allah Subhanahu Wa Ta’ala berupa keterangan terperinci tentang surga yang dijanjikan bagi orang-orang yang taat, dan mengingat siksa neraka yang ancamkan bagi pendosa. Dia berusaha terus melakukan itu agar rasa takut dan optimismenya kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala semakin menguat dalam hatinya. Dengan demikian, ia berdoa senantiasa kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala dengan penuh harap dan cemas agar Allah Subhanahu Wa Ta’ala berkenan menerima taubatnya, menghapuskan dosa dan kesalahannya.

Allah Ta’ala berfirman,

إِنَّ الْحَسَنَاتِ يُذْهِبْنَ السَّيِّئَاتِ

“Sesungguhnya perbuatan-perbuatan yang baik itu menghapuskan (dosa) perbuatan-perbuatan yang buruk” (QS. Huud: 114)

Setiap manusia pasti pernah bersalah. Jangan terlalu berlarut menyesali kesalahan, karena ajaran Islam adalah segera bangkit, bertaubat dan memperbaiki diri.  Ketika melakukan kesalahan atau sedikit saja kesalahan maka akan terus memikirkannya, seolah-olah dia yang sempurna langsung cacat dengan kesalahan yang sedikit. Perlu disadari bahwa setiap manusia pasti pernah berbuat salah dan tidak ada yang tidak pernah berbuat kesalahan.

Ramadhan Bulan Pertaubatan

Oleh Gus Yusron

Ikuti Awadah Dakwah Festival secara LIVE, pukul 16.00 WIB dan 21.00 WIB setiap hari selama bulan Ramadhan hanya di aplikasi Cakap, sebuah platform belajar bahasa, mulai dari bahasa Inggris, Jepang, Mandarin dan Indonesia.  

Jangan lupa untuk download aplikasi Cakap untuk dapat terus tonton video Awadah Dakwah Festival setiap hari selama bulan Ramadhan 1441 H. Cari tau di sini untuk jadwal lengkap  Awadah Dakwah Festival 2020.

Bagikan Tautan Ini
Share on facebook
Share on whatsapp
Share on linkedin
Share on twitter
Share on google