Ngaji Kitab Nashaihul Ibad Bersama Ustadz Mahbub Ma’afi

Ustad Mahbub Ma'afi

Ustadz Mahbub Ma’afi menjelaskan tentang Kitab Nashaihul Ibad melalui program Awadah Dakwah Festival 2020 yang dapat diakses melalui aplikasi Cakap. Kitab Nashaihul Ibad adalah salah satu kitab yang bertemakan tasawuf yang dalam penyajiannya sangat sederhana dan langsung pada pokok masalah, sehingga memudahkan setiap pembaca untuk memahaminya.

Kitab ini ditulis per bab yang terdiri dari sepuluh bab, di mana terdapat 214 total jumlah pembahasannya yang didasarkan pada 45 hadist dan sisanya merupakan atsar. Namun sebenarnya terdapat lebih dari 250 hadis yang dibahas di dalamnya.  Penulisnya adalah  Syekh Imam Nawawi Al-Bantani. Syekh Nawawi Al-Bantani merupakan ulama besar yang lahir pada 1815 M di Kampung Tanara, sebuah desa kecil di Kecamatan Tirtayasa, Kabupaten Serang, Provinsi Banten. 

Syekh Nawawi adalah sosok nama yang sudah tidak asing lagi kita dengar terutama umat islam di seluruh Indonesia. Melalui karya-karyanya yang tersebar di pesantren-pesantren tradisional yang sampai sekarang masih banyak dikaji, nama Kiai asal Banten ini seakan masih hidup dan terus menyertai umat memberikan wejangan ajaran Islam yang menyejukkan.

Di setiap majlis ta’lim karyanya selalu dijadikan rujukan utama dalam berbagai ilmu; dari ilmu tauhid, fiqh, tasawuf sampai tafsir. Karya-karyanya sangat berjasa dalam mengarahkan mainstream keilmuan yang dikembangkan di lembaga-Iembaga pesantren yang berada di bawah naungan Nahdhatul Ulama.

Kitab Nashaihul Ibad memiliki kandungan makna yang begitu dalam dan hakikatnya begitu tinggi, sehingga bila dipahami secara mendalam dan dipraktikkan dalam kehidupan sehari-hari dapat mengantarkan kita pada kesucian hati, kebersihan jiwa, dan kesantunan budi pekerti, serta dapat mengingatkan kita akan pentingnya memahami makna hidup hakiki.

Di setiap bab Imam Nawawi selalu memberikan uraian terlebih dahulu mengenai jumlah nasehat yang beliau paparkan dan jumlah poin dalam setiap nasehatnya berikut jumlah hadis maupun atsarnya. Misalnya, pada bab pertama beliau menyebutkan ”Bab ini terdapat 30 nasehat yang masing-masing terdiri dari dua poin. Empat di antaranya berupa hadis nabi, sedang sisanya berupa atsar.” Sumber kitab hadis yang digunakan oleh pengarang adalah dari Kutub al Tis’ah maupun kitab-kitab di luar Kutub al Tis’ah.

Dalam menyebutkan hadis nabi, Imam Nawawi tidak pernah menyebutkan rentetan jalur sanad, namun banyak di antara hadis-hadis itu yang diberi keterangan tentang mukharrijnya. Kitab ini berbeda dengan dalam Tanqihul Qaul syarah Lubabul Hadis karya al-Hafidz Jalaluddin Abdul Rahim ibn Abu Bakar as-Sayuthi., yaitu karya lain beliau yang sama-sama membahas hadis. 

Beliau memulai mukadimahnya dengan lebih menekankan pentingnya “isnad”, oleh itu setiap hadis yang termaktub dalam Lubabul Hadis diberi penilaian menurut kaedah Musthalah Hadis. Sedangkan Nashaihul Ibad lebih mementingkan syarah menuju kepada perbaikan akhlak dan dikaitkan dengan amalan yang dikerjakan sehari-hari. 

Salah satu contoh hadist da’if yang terdapat dalam kitab Nashaihul Ibad:

خَصْلَتَانِ مَنْ كَانَتَا فِيهِ كَتَبَهُ اللَّهُ شَاكِرًا صَابِرًا وَمَنْ لَمْ تَكُونَا فِيهِ لَمْ يَكْتُبْهُ اللَّهُ شَاكِرًا وَلَا صَابِرًا مَنْ نَظَرَ فِي دِينِهِ إِلَى مَنْ هُوَ فَوْقَهُ فَاقْتَدَى بِهِ وَمَنْ نَظَرَ فِي دُنْيَاهُ إِلَى مَنْ هُوَ دُونَهُ فَحَمِدَ اللَّهَ عَلَى مَا فَضَّلَهُ بِهِ عَلَيْهِ كَتَبَهُ اللَّهُ شَاكِرًا صَابِرًا وَمَنْ نَظَرَ فِي دِينِهِ إِلَى مَنْ هُوَ دُونَهُ وَنَظَرَ فِي دُنْيَاهُ إِلَى مَنْ هُوَ فَوْقَهُ فَأَسِفَ عَلَى مَا فَاتَهُ مِنْهُ لَمْ يَكْتُبْهُ اللَّهُ شَاكِرًا وَلَا صَابِرًا 

Artinya : “Ada dua perkara, barang siapa memiliki keduanya, maka Allah akan mencatat dia sebagai orang yang bersyukur dan penyabar; dan barang siapa yang tidak memiliki dua perkara tersebut, maka Allah tidak mencatatanya sebagai orang yang bersyukur dan tidak pula sebagai penyabar.”

Hadis ini diriwayatkan oleh Suwaid bin Nashr – Ibnu al Mubarak – Mutsanna bin al Shabah – Amr bin Syu’aib – Abdullah bin Amr – Rasul. Dari rentetan sanad tersebut terdapat seorang rawi bernama Mutsanna bin al Shabah yang oleh para ulama’ hadis dinilai da’if. Selain itu hadis ini juga hanya diriwayatkan oleh Tirmidzi.[9] Terdapat dalam kitab Nashaihul Ibad bab kedua maqalah 26 halaman 7.

Ustadz Mahbub Ma’afi menjelaskan lebih dalam mengenai, “Ngaji Kitab Nashaihul Ibad” pada kajian Awadah Dakwah Festival 2020 melalui tayangan video berikut ini.

Ngaji Kitab Nashaihul Ibad

Bersama Ustadz Mahbub Ma'afi

Ikuti Awadah Dakwah Festival secara LIVE, pukul 16.00 WIB dan 21.00 WIB setiap hari selama bulan Ramadhan hanya di aplikasi Cakap, sebuah platform belajar bahasa, mulai dari bahasa Inggris, Jepang, Mandarin dan Indonesia.  

Jangan lupa untuk download aplikasi Cakap untuk dapat terus tonton video Awadah Dakwah Festival setiap hari selama bulan Ramadhan 1441 H. Cari tau di sini untuk jadwal lengkap  Awadah Dakwah Festival 2020.

Bagikan Tautan Ini
Share on facebook
Share on whatsapp
Share on linkedin
Share on twitter
Share on google