Menjalin Kerukunan Menurut Kitab Nashaihul ‘Ibad Oleh Ustadz Mahbub Ma’afi

Ustad Mahbub Ma'afi

Bagaimana sebenarnya sikap dan pandangan Islam mengenai kerukunan antar sesama? Sudah tepatkah hubungan yang terjalin antara umat yang berbeda? Pembahasan dari pertanyaan tersebut disampaikan Ustadz Mahbub Ma’afi melalui program Awadah Dakwah Festival 2020 yang dapat disaksikan melalui aplikasi Cakap.

Ustadz Mahbub Ma’afi pada kesempatan ini menggunakan kitab Nashaihul Ibad untuk menjelaskan tentang kerukunan. Kitab ini ditulis oleh  tokoh asli Nusantara, yaitu Syekh Imam Nawawi Al-Bantani. Syekh Nawawi Al-Bantani merupakan ulama besar yang lahir pada 1815 M di Kampung Tanara, sebuah desa kecil di Kecamatan Tirtayasa, Kabupaten Serang, Provinsi Banten. 

Kitab Nashaihul ‘Ibad ini berisi beberapa nasihat yang akan mencerahkan umat, sehingga bisa mempersiapkan diri untuk menghadapi Hari Kiamat. Nasihat-nasihat di dalam kitab ini dikelompokkan menjadi 10 bab yang berisi 214 nasihat. 

Sebanyak 45 nasihat di antaranya bersumber dari hadits dan selebihnya adalah atsar atau ucapan para sahabat dan pengikut nabi. Penulisan kitab ini diselesaikan Syekh Nawawi pada Kamis, 21 Safar 1311 H atau tahun 1893 Masehi.

Dituliskan dalam kitab Nashaihul Ibad, salah satu hadits yang diriwayatkan dari Nabi Muhammad Sallallahu Alaihi Wa Sallam :

ayat Kitab Nashaihul ‘Ibad

Artinya : “Ada dua hal yang memang tidak ada sesuatu yang lebih utama daripada kedua hal tersebut, yang pertama adalah iman kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala yang kedua adalah memberikan kebaikan untuk orang-orang Muslim”

Di dalam pendekatan ini menurut sabda Rasul, bagi setiap muslim adalah wajib hukumnya untuk beriman kepada Allah dan berbuat baik kepada sesama. Bagaimana pengamalannya? Dapat dilakukan dengan menebar kebaikan melalui ucapan, sikap, kedudukan, harta benda, dan fisik.

ayat Kitab Nashaihul ‘Ibad

Artinya : “Barangsiapa yang (sudah) bangun pagi-pagi dan tidak memiliki niat untuk berbuat kezaliman kepada seorang pun, maka niscaya dosa-dosa yang telah lalu itu akan diampuni. Dan barangsiapa yang di dalam hatinya sudah memiliki niat untuk menolong orang yang dizalimi dan memenuhi kebutuhan umat muslim, maka baginya akan mendapatkan pahala sebagaimana pahala haji yang mabrur.”

Dari hadits tersebut dapat dijelaskan bahwa sebaik-baiknya manusia adalah mereka yang mampu menebarkan kebaikan, memberikan kebajikan kepada orang lain, dan menghilangkan sifat dendam dalam dirinya. Hal ini menjadi sangat penting untuk dipahami manusia untuk saling memahami bahwa berbuat baik dapat dilakukan dengan sangat murah, yakni dengan menggunakan niat, pikiran, ucapan, dan tindakan.

“Untuk itu tebarkanlah perdamaian di antara kalian dan menarik diri dari perbuatan zalim serta menebarkan kerukunan. Karena itu adalah sesuatu hal yang sangat diperintahkan dalam pandangan Islam, karena memang Islam itu adalah ajaran yang penuh kedamaian” Ucap Ustadz Mahbub Ma’afi.

Ustadz Mahbub Ma’afi menjelaskan lebih dalam mengenai, “Menjalin Kerukunan dalam Kitab Nashaihul ‘Ibad” pada kajian Awadah Dakwah Festival 2020 melalui tayangan video berikut ini.

"Menjalin Kerukunan dalam Kitab Nashaihul ‘Ibad"

Oleh: Ustadz Mahbub Ma’afi

Ikuti Awadah Dakwah Festival secara LIVE, pukul 16.00 WIB dan 21.00 WIB setiap hari selama bulan Ramadhan hanya di aplikasi Cakap, sebuah platform belajar bahasa, mulai dari bahasa Inggris, Jepang, Mandarin dan Indonesia.  

Jangan lupa untuk download aplikasi Cakap untuk dapat terus tonton video Awadah Dakwah Festival setiap hari selama bulan Ramadhan 1441 H. Cari tau di sini untuk jadwal lengkap  Awadah Dakwah Festival 2020.

Bagikan Tautan Ini
Share on facebook
Share on whatsapp
Share on linkedin
Share on twitter
Share on google