Cakap Upskill Bersama IDEPlus: Extrovert vs Introvert, Mana yang Lebih Baik?

Pada Jumat pertama di bulan November lalu, Cakap mengadakan webinar parenting bersama IDEPlus. Mengangkat tema “Mana yang Lebih Baik: Extrovert vs Introvert”, acara webinar ini dibawakan oleh Erika Kamaria Yamin, M.Psi. Psikologi., CHt dari IDEplus.

Webinar parenting yang super seru ini dibuka dengan beberapa pertanyaan yang ditujukan kepada peserta webinar. Terdapat sekitar 5 pertanyaan dengan dua pilihan yang mengarah pada perilaku extrovert atau introvert. Lalu, apakah iya, menjadi extrovert lebih baik daripada introvert? Atau sebaliknya? Atau mungkin keduanya sama-sama memiliki sisi baiknya masing-masing? Webinar Upskill kali ini akan memberimu jawaban sekaligus mengupas tuntas apa itu extrovert dan introvert.

Extrovert vs Introvert

Membahas mengenai extrovert dan introvert, Erika Kamaria Yamin mengawalinya dengan mengenalkan para peserta kepada seorang tokoh bernama Carl Gustav Jung, Swiss psychiatrist and psychoanalysis. Carl Gustav Jung merupakan orang yang pertama kali mengenalkan konsep extrovert dan introvert. Hal yang perlu diketahui dan disoroti di sini adalah ekstrovert dan introvert, yang mana, keduanya merupakan jenis kepribadian umum pada manusia. Lalu, apa sebenarnya extrovert dan introvert

Perbedaan antara extrovert dan introvert bisa dilihat dari stimulasi dan fokusnya. Anak extrovert, cenderung butuh stimulasi yang lebih besar dari luar (external), mereka mengandalkan fokusnya dari luar. Para extrovert membutuhkan input dari luar agar mereka bisa merasa nyaman. Selain itu, mereka juga dikenal sebagai periang.

Sedangkan para introvert, mereka memiliki fokus atau stimulasi dari dalam diri mereka sendiri. Mereka sudah memiliki banyak stimulus dari dalam, sehingga tidak butuh banyak input dari luar. Jika extrovert dikenal sebagai si Periang, maka introvert dinilai lebih pendiam. Namun jangan salah lho Moms & Dads, anak introvert juga bisa terbuka di lingkungan yang membuat dia merasa aman dan nyaman.

Fokus dan Sumber Energi Extrovert & Introvert

Kamu mungkin pernah bertanya, dari mana ya orang merasa bersemangat? Dari mana mereka (extrovert dan introvert) bisa mendapatkan level nyamannya? Erika Kamaria Yamin menjelaskan bahwa ada beberapa sumber fokus dan energi dari extrovert dan introvert, berikut penjelasan selengkapnya!

Para extrovert fokus mencari sumber energi dari luar atau sumber energi external. Sumber semangat mereka juga akan muncul ketika bertemu dengan banyak orang. Mereka yang memiliki kepribadian extrovert butuh berbincang dengan orang ketika akan memecahkan atau menyelesaikan suatu hal, proses berbicara dengan orang membuat mereka berhasil menguraikan benang kusut. 

Introvert fokus pada hal-hal  internal, mereka mendapatkan energi dari me time/menghabiskan waktu sendiri. Bagi introvert, menghabiskan waktu sendiri  bukan berarti kesepian, tapi mereka enjoy dengan momen tersebut.

Erika juga menambahkan bahwa ”Tidak ada orang yang benar-benar 100% extrovert atau 100% introvert. Mungkin seseorang memiliki kecenderungan extrovert, tapi ada juga sisi-sisinya yang introvert.  Pahami kecenderunganmu, maka kamu akan lebih mudah menyesuaikan diri.”

Temukan Bakat Terpendammu dan Kembangkan Bersama Cakap Upskill

Mitos dan Fakta Seputar Extrovert dan Introvert

Katanya, extrovert lebih baik daripada introvert? Namun faktanya, extrovert sama baiknya dengan introvert. Masing-masing memiliki kekuatan dan kelemahan.

Lalu bagaimana dengan pernyataan extrovert lebih percaya diri daripada introvert? Menurutmu mitos atau fakta? Jelas mitos! Baik extrovert maupun introvert, nothing to do with confidence. Orang yang banyak bicara tidak selalu memiliki rasa percaya diri yang tinggi. Mengapa demikian? Karena bentuk ketidakpercayaan diri bermacam-macam, menutupi kelemahan dengan omong besar itu juga menjadi bentuk ketidakpercayaan diri.

Banyak orang yang juga bertanya-tanya, apakah anak extrovert lebih bahagia daripada anak introvert? Jawabannya tentu tidak, extrovert maupun introvert sama-sama bisa bahagia. 

Yang Memengaruhi Pembentukan Kepribadian 

Berikut beberapa faktor yang berpengaruh terhadap pembentukan kepribadian anak:

Genetik

Anak-anak new born bisa dilihat bahwa mereka memiliki yang namanya temperamen, namun temperamen bukan kepribadian atau personality. Kecenderungan genetik pada anak, bisa berubah seiring perubahan waktu karena sepanjang waktu itu pasti banyak hal yang terjadi.

Pola Asuh

Pola asuh dari orang tua juga memengaruhi pembentukan kepribadian anak. Bagaimana orang tua membangun kedekatan dengan anak dan bagaimana orang tua membangun value-value yang baik kepada anak, juga akan sangat memengaruhi kepribadian mereka. Maka dari itu, Moms & Dads, jadilah orang tua yang selalu responsif, selalu me-respons anak dengan hangat.

Pengalaman Hidup

Pengalaman hidup di setiap fase kehidupan anak selalu memiliki tantangan. Apa yang terjadi akan memengaruhi fase kehidupan anak selanjutnya, “Yang terjadi di masa anak-anak itu akan sangat memengaruhi dia di masa dewasa” pungkas Erika.

Wah, ada banyak hal tentang exrtovert dan introvert yang ternyata sangat menarik untuk diselami ya, Moms & Dads. Sebagai orang tua, kalian sangat berpengaruh terhadap pembentukan kepribadian anak.

Buat kamu yang tertarik untuk meningkatkan dan menggali skill-skill yang kamu punya, yuk buruan cari tahu jadwal kelas Cakap Upskill selanjutnya! Ada banyak kelas yang bisa kamu ikuti di sana!

Baca Juga: