E-Learning, Masa Depan Pendidikan di Era Digital yang Tak Bisa Ditampik

cakap untuk bangsa one for one

Pembicaraan mengenai revolusi industri 4.0 di era digital rasanya sudah berulang kali menjadi pembahasan. Berkali-kali pula kita mendengar bahwa sumber daya manusia yang berkualitas menjadi kunci sekaligus tantangan untuk mampu bersaing di era industri ini.

Perkembangan teknologi di era digital ini bisa dikatakan sudah tidak dapat dipungkiri lagi apalagi ditolak. Dampaknya sudah merambah kemana-mana, mulai dari industri retail, perbankan, hingga pendidikan.

Dengan munculnya tren ini, masyarakat mau tak mau dituntut untuk bisa mengikuti perkembangannya. Ikut atau ditinggal, hanya itu pilihannya. Ini pun terjadi di bidang pendidikan. Apabila dulu informasi dan ilmu pengetahuan hanya bisa diakses melalui buku, kini hal yang sama hanya sejauh genggaman saja.

Lewat gawai, berbagai ilmu tak terbatas bisa diakses hanya dalam beberapa detik. Perkembangan teknologi telah mendemokratisasi informasi, ilmu pengetahuan, dan pendidikan. Ini juga menjadi kunci untuk mencapai cita-cita SDM unggul yang nantinya mampu bersaing di tingkat global. Oleh karena itu, banyak negara mulai mengambil langkah untuk beradaptasi dengan perkembangan ini.

Penerapan E-Learning di Berbagai Negara

Sudah banyak negara-negara yang menerapkan konsep pembelajaran secara daring (e-learning). China misalnya, kini memiliki lebih dari 70 institusi dan perguruan tinggi online, membuat pendidikan menjadi lebih mudah diakses secara signifikan. Investasi besar-besaran di bidang teknologi edukasi dikucurkan. 

Ini tak hanya terjadi di negara-negara maju seperti Jerman, AS, Korea Selatan, China atau Australia saja. Berbagai negara berkembang pun turut mengambil aksi untuk menyikapi perkembangan ini.

Pemerintah Rwanda menerapkan program ‘smart classroom’, menargetkan sekitar 1.500 sekolah. Jamaika akan membagikan tablet dan komputer ke 950 sekolah sebagai bentuk pengintegrasian teknologi pada sistem pendidikan. Sebanyak lebih dari 6.000 sekolah menengah negeri di India akan mendapat lab komputer berteknologi tinggi.

Menurut Syaikhu Usman, peneliti dari SMERU Research Institute, di masa depan anak-anak dapat belajar di mana saja tanpa terikat ruang fisik, begitu pula dengan guru yang bertindak sebagai fasilitator.

Dalam acara Kongres ke-XXII Persatuan Guru Republik Indonesia (PGRI), Jokowi menyatakan bahwa ruang kelas bukan lagi menjadi satu-satunya tempat belajar. Ia menggambarkan dunia virtual sebagai kampus dimana setiap orang bisa belajar apa saja.

Namun apa kabar dengan mereka yang tak memiliki akses terhadap internet? Ini kabar baiknya.

Penetrasi Internet di Indonesia Terus Meningkat

Memang, belum seluruh wilayah di Indonesia tersentuh dengan jaringan internet. Namun, ini bukan berarti tidak adanya perkembangan dan upaya-upaya yang dilakukan.

Berdasarkan laporan survei APJII 2018, angka penetrasi internet di Indonesia meningkat 10,12% dari tahun 2017. Kini, sebanyak 171,17 juta penduduk Indonesia merupakan pengguna internet.

Sementara hasil survei APJII pada tahun 2017 menunjukkan bahwa penetrasi penyebaran internet di 3 wilayah di Indonesia mencapai angka di atas 50%, yaitu Jawa (57,70%), Bali (54,23%), dan Kalimantan (72,19%). Wilayah lainnya, walaupun di bawah 50%, tidak jauh tertinggal.

Penetrasi penyebaran internet di Sumatera mencapai angka 47,20%, Sulawesi sebesar 46,70%, dan Maluku-Papua 41,98%. Artinya, hampir setengah penduduk di tiap wilayah sudah memiliki akses internet.

Upaya-upaya pun terus dilakukan agar angka ini bisa terus meningkat hingga akhirnya seluruh wilayah di Indonesia terhubung dengan internet. Infrastruktur terus dibangun di berbagai wilayah. Badan Aksesbilitas Teknologi dan Informasi (BAKTI) Kemenkominfo menargetkan pada 2020 semua desa di Indonesia sudah bisa mengakses internet.

Melihat pertumbuhan penetrasi internet serta perkembangan sektor pendidikan yang cenderung bergerak ke arah pembelajaran online, layaknya negara-negara lain, Indonesia pun dituntut untuk beradaptasi dengan kemajuan ini agar tidak tertinggal. 

Tren pembelajaran online menjadi salah satu bentuk adaptasi tersebut. Sektor Edtech (education technology) di Indonesia melihat pertumbuhan yang positif. Munculnya startup-startup di bidang pendidikan seperti bimbel online dapat menjadi jembatan untuk memperkenalkan metode pembelajaran online kepada masyarakat.

Sehingga masyarakat sudah terbiasa dengan metode pembelajaran ini apabila nantinya diadaptasi dalam sistem pendidikan. Selain itu, menjajarkan pertumbuhan internet dengan teknologi pendidikan memberikan kesadaran sejak awal bagi masyarakat agar menggunakan internet untuk hal-hal yang positif.

Untuk itu, Cakap terus berkomitmen untuk memberikan kontribusi dan dukungan bagi perkembangan ini, salah satunya melalui program One for One. Bekerjasama dengan Bawah Anambas Foundation (BAF), Cakap berupaya untuk meningkatkan kualitas pendidikan khususnya literasi bahasa Inggris bagi siswa sekolah menengah di Desa Kiabu, Kabupaten Kepulauan Anambas melalui pemanfaatan teknologi.

Yuk, Pelajari Lebih Lanjut Tentang Program One for One?

Tak hanya Cakap saja, masyarakat juga dapat berpartisipasi dalam kampanye #CakapUntukBangsa. Setiap pembelian paket belajar di Cakap secara otomatis akan dikonversikan menjadi sesi belajar bahasa Inggris gratis bagi siswa sekolah menengah di Desa Kiabu.

Harapannya, agar siswa di Desa Kiabu, dan nantinya di seluruh Indonesia, dapat memiliki kesempatan yang sama untuk mengakses pendidikan melalui teknologi.

Bagikan Tautan Ini
Share on facebook
Share on whatsapp
Share on linkedin
Share on twitter
Share on google