Minuman Teh Jepang Ini adalah yang Paling Digemari di Dunia

Minuman Teh Jepang Ini adalah yang Paling Digemari di Dunia

Salah satu tren kuliner dunia yang paling diminati selama beberapa tahun terakhir adalah matcha. Rasanya yang unik dan creamy ini cocok untuk hampir semua jenis hindangan penutup seperti es krim, milkshake, kue, biskuit, dan lainnya. Matcha bukanlah hal baru bagi negara-negara di Asia Timur seperti Jepang dan Tiongkok.

Kali ini Cakap akan membahas tentang matcha dan bagaimana proses penyajiannya. Mau tahu? Simak artikel berikut!

Apa itu Matcha?

Minuman Teh Jepang Ini adalah yang Paling Digemari di Dunia
sumber: giphy

Matcha (抹茶) adalah bubuk halus dari daun teh hijau (Camellia sinensis) yang tumbuh dan diproses secara khusus. Tanaman teh hijau untuk matcha ditanam dan ditutup dengan jerami atau kerai agar daun the tidak terkena sinar matahari langsung selama sekitar tiga minggu sebelum panen dan batang serta vena dihilangkan dalam pemrosesan. Selama proses tersebut, tanaman Camellia sinensis menghasilkan lebih banyak theanine dan kafein.

Matcha digunakan dalam upacara minum teh Jepang. Upacara minum teh tradisional Jepang berpusat pada persiapan, penyajian, minum matcha sebagai teh panas dan mewujudkan gaya spiritual meditatif. Di zaman modern, matcha juga telah digunakan untuk membumbui dan mewarnai makanan seperti mochi dan mie soba, es krim, matcha latte, dan berbagai manisan wagashi.

Sejarah Matcha

Minuman Teh Jepang Ini adalah yang Paling Digemari di Dunia
sumber: giphy

Di Tiongkok, pada masa Dinasti Tang (618–907), daun teh dikukus dan dibentuk menjadi balok untuk disimpan dan diperdagangkan. Teh disiapkan dengan cara dipanggang, dilumatkan, dan dan bubuknya dituang ke dalam air panas, kemudian ditambahkan garam. Pada masa Dinasti Song (960-1279), metode membuat teh bubuk dari daun teh kering dan disajikan dengan cara dikocok bersamaan dengan air panas di dalam air panas merupakan suatu hal yang populer.

Cara menyajikan dan mengonsumsi teh bubuk dijadikan suatu bentuk ritual oleh aliran Buddha Zen atau Chan. Metode penyajian teh ini dibawa ke Jepang pada 1191 oleh biarawan Eisai. Di Jepang, teh menjadi barang penting di biara-biara Zen sejak abad ke-14 hingga ke-16 yang sangat dihargai oleh anggota eselon atas masyarakat.

Baca Juga

Cara Menyiapkan Matcha

Minuman Teh Jepang Ini adalah yang Paling Digemari di Dunia
sumber: giphy

Ada dua cara utama mempersiapkan matcha: kental (濃茶—koicha) dan encer (薄 茶—usucha).

Sebelum digunakan, mactha biasanya diayak dengan saringan untuk memecah gumpalan.Saringan tersebut bernama chaki, biasanya terbuat dari stainless steel dan kawat halus dalam wadah penyimpanan. Spatula kayu khusus digunakan untuk mengayak teh melalui saringan, atau batu kecil dan halus dapat diletakkan di atas saringan dan perangkat dikocok perlahan.

Sekitar dua hingga empat gram matcha ditempatkan ke dalam mangkuk dan kemudian dituangkan sekitar 60–80 ml ai rpanas bersuhu 70–85 °C. Campuran tersebut kemudian dikocok hingga konsistensi yang seragam, menggunakan pengocok bambu. Jangan sampai ada gumpalan yang tertinggal dalam cairan, dan tidak ada teh bubuk yang tersisa di sisi mangkuk.

Usucha, atau teh encer, disiapkan dengan sekitar 1,75 gram matcha dan sekitar 75 ml air panas per sajian, yang dapat dikocok untuk menghasilkan buih atau tidak, sesuai dengan preferensi peminum (atau dengan tradisi sekolah teh tertentu). Usucha menciptakan teh pahit yang lebih ringan.

Koicha, atau teh kental, membutuhkan lebih banyak matcha sekitar 3,75 dan sekitar 40 ml (1,3 fl oz) dari air panas per sajian, atau sebanyak 6 sendok teh hingga 3-4 gelas air. Karena campuran yang dihasilkan lebih kental secara signifikan, pengadukannya membutuhkan gerakan pengadukan yang lebih lambat dan tidak menghasilkan busa.

Koicha biasanya dibuat dengan matcha yang lebih mahal dari pohon teh yang lebih tua, dengan demikian, menghasilkan teh yang lebih lembut dan lebih manis daripada usucha; disajikan hampir secara eksklusif sebagai bagian dari upacara minum teh Jepang.

Belajar bahasa Jepang memang lebih enak kalau ditemani dengan matcha hangat atau dingin. Rasanya yang manis dan sedikit pahit menjadi perpaduan rasa yang berlawanan namun tetap nyaman di lidah. Meminum matcha setelah kursus bahasa Jepang online dengan Cakap pun bisa menjadi hadiah tersendiri untuk kamu. Menjadi lebih rileks setelah belajar agar kamu siap untuk melanjutkan aktivitas lainnya.

Baca Juga
Bagikan Tautan Ini
Share on facebook
Share on whatsapp
Share on linkedin
Share on twitter
Share on google