Ternyata Multitasking Itu Berdampak Buruk Lho!

Lagi ngapain?” “Lagi ngerjain tugas nih! Sambil nonton tv sama nyemil.” Pernah mengalami ini? Mengerjakan beberapa hal dalam waktu bersamaan? Aktivitas ini biasa disebut multitasking.

Kita semua pasti deh pernah melakukannya. Chattingan sama teman sebelah pas lagi rapat, makan sambil nonton series, nonton tv sambil main hp, dan banyak lagi. Zaman sekarang mono-tasking? Kayaknya gak mungkin deh!

Lagian gue jago multitasking kok! Buktinya kerjaan gue selesai-selesai aja tuh.” Yakin? Kabar buruknya, menurut ahli saraf hanya 2,5% orang yang benar-benar bisa multitasking secara efektif. Sisanya? Malah berdampak buruk buat produktivitas.

Berikut 8 dampak negatif dari kebiasaan multitasking yang mungkin kamu tidak sadari.

Susah fokus

Susah fokus source: giphy.com

Multitasking ternyata mengakibatkan berkurangnya aktivitas di daerah otak yang mengatur atensimu. Selain itu, multitasker lebih sulit beralih dari satu tugas ke tugas lainnya karena sudah terbiasa melakukan beberapa hal dalam waktu yang bersamaan.

Akibatnya, mereka kesulitan menyaring informasi yang kurang relevan. Padahal, tiap harinya kita mendapatkan begitu banyak informasi mulai dari yang penting banget sampai yang sekadar lewat saja. 

Buruk buat ingatan

Buruk buat ingatan source: giphy.com

Pernah gak baca buku tapi sambil chattingan? Kemungkinan besar, kamu bakal sulit menangkap informasi baik dari buku yang kamu baca maupun dari chat yang kamu terima. Yang ada balesan chat kamu malah gak nyambung. Tadi lagi ngomongin apa ya? Tadi bacanya sampai paragraf mana ya?

Menurut studi, menginterupsi satu aktivitas buat melakukan aktivitas lainnya bisa mengganggu ingatan jangka pendek kamu lho. Dampak ini semakin jelas terlihat seiring bertambahnya usia. Makanya, jangan dibiasain ya, Sobat Cakap!

Kurang peka sama lingkungan sekitar

Kurang peka sama lingkungan sekitar source:giphy.com

Lagi jalan sambil telponan, eh tiba-tiba nabrak orang lain! Umum banget terjadi. Menurut riset, orang-orang yang sering multitasking seringkali kurang peka sama keadaan sekitar mereka walaupun ada sesuatu yang terjadi di depan mata mereka.

Bukan berarti orang multitasking itu orang yang acuh tak acuh ya. Hanya saja, mereka kadang tidak sadar akan sesuatu walaupun sudah melihatnya. Ya, kurang lebih mirip orang bengong.

Sebuah hasil eksperimen menunjukkan 75% mahasiswa yang berjalan sambil berbicara di telepon gak sadar kalau di dekat mereka ada badut yang sedang mengendarai unicycle. Peneliti menyebut ini sebagai “kebutaan tanpa perhatian”. Jadi walaupun mereka melihat sekeliling mereka, otak mereka tidak benar-benar memroses apa yang mereka lihat.

Malah memperlambat kerja

Malah memperlambat kerja source: giphy.com

Nyatanya, multitasking tidak menghemat waktumu tapi malah memperlambat ritme kerjamu. Malahan, kamu mungkin jadi perlu waktu yang lebih lama untuk menyelesaikan 2 pekerjaan saat multitasking dibanding saat mengerjakannya satu per satu.

Tiap aktivitas membutuhkan pola pikir tertentu yang mungkin berbeda antara satu aktivitas dengan yang lainnya, jadi akan lebih efektif jika mengerjakannya satu aktivitas sampai selesai kemudian baru lanjut ke kegiatan lainnya.

Meredam kreativitas

Meredam kreativitas source: giphy.com

Multitasking membutuhkan banyak “penyimpanan otak sementara”. Ketika tempat penyimpanan ini terpakai semua, kemampuan kita untuk berpikir kreatif menjadi berkurang. Fokus pada terlalu banyak hal dapat merusak kemampuan pemecahan masalah dan kreativitas kita.

Dengan begitu banyak pikiran yang simpang siur di kepala kita, multitasker seringkali merasa lebih sulit untuk berangan-angan dan menemukan momen ‘a-ha’ secara spontan.

Lebih mudah stres

Lebih mudah stres source: giphy.com

Penelitian menunjukkan, karyawan yang secara konstan memeriksa email kerja mereka selalu pada mode “siaga” dengan detak jantung yang lebih tinggi. Mereka yang tidak terus-terusan memeriksa email lebih jarang melakukan multitasking dan memiliki tingkat stres yang lebih rendah.

Gak hanya aktivitas multitasking itu sendiri yang bikin stres, tapi dampaknya juga bisa jadi efek bola salju yang membuatmu makin stres. Misalnya, nilai kamu jelek karena kamu belajar sambil nonton tv, kamu jadi makin stres karena nilaimu jelek. Hmmm… bener juga ya.

Makan jadi lebih banyak

Makan jadi lebih banyak source: giphy.com

Apa hubungannya multitasking sama makan? Sekilas kelihatannya tidak ada. Namun ternyata perhatian yang terpecah saat sedang makan, misalnya makan sambil nonton, mencegah otakmu untuk memproses sepenuhnya apa yang lagi kamu makan. Akibatnya, kamu tidak cepat merasa kenyang dan mungkin jadi ingin makan lagi dalam waktu singkat.

Para ahli merekomendasikan bahwa orang yang makan sendiri sebaiknya menahan diri untuk tidak menyalakan tv saat makan sehingga benar-benar fokus pada makanan mereka saja. Begitu juga dengan kamu yang suka pantengin kerjaan pas makan siang. Istirahat sejenak gak salah kok!

Proses belajar jadi terganggu

Proses belajar jadi terganggu source: giphy.com

Ada pepatah mengatakan: “Selalu ada cukup waktu untuk semuanya dalam waktu sehari jika kamu melakukannya satu per satu. Tapi tidak aka nada cukup waktu dalam setahun jika kamu melakukan dua hal sekaligus.”

Dengan kata lain, semakin banyak yang kita lakukan dalam satu waktu, semakin sedikit kita yang bisa kita capai karena perlahan-lahan kita kehilangan kemampuan kita untuk fokus belajar. Padahal, fokus dan rasa perhatian sangat esensial dalam proses belajar.

Jika kita sudah terbiasa multitasking, kita tidak terlatih untuk mengabaikan informasi-informasi kurang penting di sekitar dan terlibat secara mendalam dan proses pembelajaran. Riset menunjukkan bahwa multitasking dengan teknologi, seperti chatting, mendengarkan musik, atau memeriksa email, berdampak negatif pada proses belajar, mengerjakan tugas, dan nilai.

Wah, dampak negatifnya banyak ya ternyata! Maka itu, sebaiknya perlahan-lahan kurangi kebiasaan multitasking-mu ya, apalagi pas lagi belajar. Tapi emang sih, kadang saat belajar sendiri susah mengontrol fokus. Biar lebih fokus, mungkin kamu butuh pengajar yang bisa membimbing dan memotivasi kamu, seperti di Cakap. Siap meningkatkan kemampuanmu?

Baca Juga:

Instagram
Bagikan Tautan Ini
Share on facebook
Share on whatsapp
Share on linkedin
Share on twitter
Share on google